Terletak di kecamatan Ngambur Pekon Suka Banjar adalah desa yang dihuni oleh para transmigran. Berbagai macam suku berada di wilayah ini. Kepala Pekon bersuku sunda, namun ragam suku terdiri dari Lampung, Jawa, sunda, Batak bahkan ada yang bersuku bali.
Saya dan Buk Dian Eka Wati menemani Buk Sri Andri Astuti sebagai DPL Pekon Suka Banjar menuju lokasi. Sore itu kami ditemani Pak Margono menyusuri jalan sepi dengan medan mendaki. Pekon Suka Banjar di sore menjelang maghrib itu terasa hening dengan air mengalir 24 jam. Aliran Air inilah yang menjadi sumber pembangkit listrik tenaga air (PLTA).
Dibangun secara gotong royong, tenaga listrik dari arus air ini menjadi energi 24 jam warga. Karena musim kemarau aliran air tidak cukup deras maka cahaya lampu kurang terang. Maghrib itu kami takjub dengan jumlah warga yang pergi ke mushola. Dengan sinyal yang sulit, lampu yang sinarnya redup, spiritualitas begitu terasa. Para warga baik yang tua dan muda berbondong-bondong memenuhi panggilan adzan untuk salat maghrib. Lihat saja foto di dalam Mushola, ibu-ibu sudah duduk rapi di dalam dan Bapak-Bapak datang bergerombol. Anak-anak kecil habis sholat meminta di foto dengan senyum riang.
Eco-techno yang dibangun warga melalui listrik bersumber dari air ini, membuat saya merasa malu. Kita memang harus mendukung kreatifitas gerakan warga berbasis ekologis ini. Menjaga dan merawat alam dan mengambil manfaat secukupnya. Energi air, matahari, angin terlalu berlimpah di negeri ini.
Setelah maghrib kami pamit pulang setelah bertemu mahasiswa dan Peratin, kami kembali turun ke bawah. Pekon Suka Banjar yang dihuni mayoritas transmigran dan kepala pekon suku Sunda memiliki etos kerja petani modern dan ramah. Apa yang ditanam dikonsumsi, produksi kelapa yang melimpah dan kopi khas Pesisir Barat menjadi komoditas yang perlu dipromosikan melalui pariwisata digital.
"Kami ini warga pendatang Pak, jadi kami harus bekerja keras. Satu tahun yang lalu jalan naik ke sini belum bisa dilewati mobil. Kami bisa habis 10 kubik kayu memperbaiki jembatan setiap 3 bulan sekali. Alhamdulillah sekarang jalan sudah lumayan bagus." ujar Peratin Suka Banjar.
Saya dan Pak Basri Nurdin menemukan hasil olahan kopi dari warga, di dekat Tanjung Setia. Memang belum ber-merk, tapi rasa kopi ini cukup khas dan penting untuk dipromosikan di dunia luar. Kami beli dari warga dengan harga 25 ribu setengah kg. Disinilah para mahasiswa KPM IAIN Metro harus bergerak sinergi dengan para petani kopi di wilayah pekon atas, seperti pekon Suka Banjar. Promosi wisata Pesisir Barat dengan pengelolaan oleh-oleh khas lokal.
"20 tahun lalu lebih parah mas, semua ini masih belukar saat saya jadi CPNS. Dan di wilayah ini masih bagian Lampung Barat. Masih banyak Gajah berkeliaran lewat, harimau juga ada. Bahkan belum lama ini Tomi Winata melepas harimau di Bukit Barisan. Hewan tidak akan menganggu kita, asal kita tidak mengganggu mereka. Sekarang Pesibar terus berbenah dan kemajuan mulai terasa. Turis juga banyak nyaman di sini." tambah Pak Margono yang berasal dari Sritejokencono perbatasan Dam Raman.
Masih banyak yang perlu diceritakan lebih detail, karena keterbatasan dan kelelehan jempol tangan mengetik di handphone, cerita ini semoga berlanjut setelah sampai Metro.
Dharma Setyawan
DPL Desa Pekonmon Kec Ngambur Pesisir Barat.