metrouniv.ac.id – 23/02/2025 – 24 Sya’ban 1446 H
Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Dekan 3 FUAD/Guru Besar Ilmu Pendidikan Bahasa Inggris di IAIN Metro)
“Dua rakaat sebelum salat Subuh itu lebih baik daripada dunia dan segala isinya.” (HR Muslim)
‘The early bird gets the worm’ telah menjadi idiom yang populer dalam bahasa Inggris. Ia masyhur karena ajaran kehidupan yang dikandungnya, yang menyeru untuk semangat bangun pagi. Bahkan kalau perlu, bangun lebih pagi daripada orang kebanyakan. Karena mereka yang bangun lebih pagi, akan memiliki waktu lebih panjang yang bisa berujung mendapat rizki lebih banyak. Hari ini, penjelasan tentang ‘the early bird gets the worm’ cukup mudah ditemukan di dunia maya. Semuanya bagus, relevan dan kontekstual. Namun demikian, belum banyak elaborasi ‘the early bird gets the worm’ yang dikaitkan dengan khazanah ke-Islaman sehingga bisa membantu English Muslim learners untuk membangun skemata yang relevan. Artikel ini mencoba menyajikan arti harafiah, makna kasual, makna simbolik, dan cerita dari khazanah Islam yang bertalian dengan ‘the early bird gets the worm’.
Secara harafiah, ‘the early bird gets the worm’ berarti burung yang keluar pagi, dapat cacing. Sedang secara kasual, dapat diartikan ‘siapa cepat, dia dapat’. Secara simbolik, ia dapat dimaknai sebagai anjuran untuk menjadi pelopor, bukan pengekor. Seorang pelopor adalah yang bernisiatif untuk memulai lebih dulu. Inisiatif yang demikian membuatnya bangun lebih pagi, berjalan lebih jauh, membaca lebih banyak, dan bekerja lebih produktif. Di pertemuan atau di pertunjukan, mereka yang berjiwa pelopor cenderung datang lebih awal. Mereka sadar, dengan datang lebih awal, akan ada banyak keuntungan yang bisa didapat, salah satunya adalah tempat duduk yang nyaman dan strategis.
Kini, kita beralih ke sebuah cerita Islami yang relevan dengan ‘the early bird gets the worm’. Cerita berikut bertajuk ‘The Day of Peace’, atau hari perdamaian, yang penulis baca pada sebuah buku populer berjudul ‘English for Islamic Studies’ karya Jamaluddin Darwis (2012, cetakan ke-11). Dikisahkan bahwa ketika sayyidina Muhammad saw berusia sekitar tiga puluh lima tahun, banjir melanda Mekkah. Banjir mencapai Ka’bah, merusak tempat Hajar Aswad. Penduduk Mekkah lantas melakukan pemugaran. Masalah muncul ketika Hajar Aswad akan diletakkan kembali ke tempatnya: siapakah orang yang pantas melakukannya? Isu ini penting karena saat itu penduduk Mekkah sangat mengedepankan sukuisme. Dan, masalah meletakkan kembali Hajar Aswad adalah tentang prestise sebuah suku. Prahara dipercaya akan terjadi, jika tidak ada kesepakatan bersama.
Singkat cerita, diputuskanlah bahwa Hajar Aswad akan diletakkan kembali oleh orang pertama yang memasuki Masjidil Haram di keesokan harinya. Ternyata, di hari berikutnya, orang yang pertama memasuki Masjidil Haram adalah habibina Muhammad saw. Dengan kebijaksanaannya, syafi’ina Muhammad saw membentang sehelai kain dan meletakkan Hajar Aswad di tengahnya. Beliau lalu meminta setiap pemimpin suku untuk memegang sudut kain. Hajar Aswad akhirnya diletakkan kembali dengan damai, dengan melibatkan semua representasi suku. Terbaca, sang Nabi Agung yang dikenal paling jujur dan terpercaya (ash-shiddiq al-amin), adalah orang yang hadir paling pagi di Masjidil Haram. Kehadiran paling pagi itu tampak bertalian dengan sikap bijaksana yang bermuara pada perdamaian.
Syahdan, kini jika harus memberi makna pada ‘the early bird gets the worm’, kita ingin berkata: kebijaksanaan dan kedamaian boleh menjadi milik mereka yang bangun pagi-pagi. Lebih jauh, dalam Islam, beraktivitas di pagi hari adalah istimewa. Terutama jika kita bisa mendirikan dua rakaat sebelum sholat subuh . Wallahu a’lam.