Hikmah Pergantian Tahun Baru Hijriyah

bg dashboard HD

metrouniv.ac.id – 15/07/2024 – 9 Muharam 1446 H

Dr. Ahmad Supardi Hasibuan, M.A. (Kepala Biro AUAK IAIN Metro)

Setiap pergantian tahun baru hijriyah, selalu saja ada yang berbeda di kalangan umat di kala mereka harus memaknai kehadiran tahun yang menjadi simbol kebangkitan umat ini. Pergantian tahun ini pun tampak diperingati dengan berbagai cara sesuai dengan tradisi dan adat kebiasaan setempat, dengan catatan tidak bertentangan dengan ajaran agama Islam. Ada yang melaksanakannya dengan berbagai acara, seperti pawai ta’aruf, ada yang mengadakan berbagai kegiatan lomba keagamaan, ada yang mengadakannya dengan melaksanakan tabligh akbar, dan segala macamnya. Kesemuanya itu adalah dalam rangka menyambut dan memeriahkan pergantian tahun baru hijriyah, yang adalah merupakan kalender tahun baru Islam.

Umar bin Khattab selaku Khulafaurrasyidin kedua, secara khusus menetapkan peristiwa hijrah Nabi Muhammad SAW beserta para sahabatnya, dari Makkatul Mukarramah menuju Madinatul Munawwarah, sebagai awal mula perhitungan kalender Islamiyah. Pemilihan akan peristiwa hijrah sebagai awal perhitungan kalender Islam ini, bukanlah ditetapkan dengan sembarangan, tetapi telah melalui diskusi panjang, adu argumentasi yang dinamis, dan perdebatan yang melelahkan. Para sahabat menyampaikan pendapatnya. Ada pihak mengusulkan dihitung dari kelahiran Nabi Muhammad, namun ditolak oleh yang lain. Sebab hal itu sama dengan agama Nasrani yang menghitung kalendernya dari kelahiran Nabi Isa as.

Ada yang mengusulkan perhitungan dari mulai ditetapkannya azan yang terkenal dengan tahun azan karena azan adalah panggilan menunaikan ibadah shalat. Ada yang mengusulkan terhitung ditetapkannya kewajiban shalat pasca isra’ mi’raj. Sebab shalat adalah tiang agama. Ada yang mengusulkan dari pelaksanaan hijrah sebab hijrah adalah tonggak awal berkembangnya agama Islam. Dan masih banyak lagi yang lain. Namun akhirnya disepakati dan Umar bin Khattab menetapkan bahwa perhitungan awal tonggak kalender Islam dimulai dari peristiwa hijrah, sambil mengatakan bahwa hijrah adalah pembatas antara yang haq dengan yang bathil.

Membaca Catatan Sejarah

Apapun yang kita lakukan dalam hidup dan kehidupan ini selama satu tahun yang lalu adalah merupakan lembaran catatan sejarah yang kelak akan kita baca dan pertanggungjawabkan di hadapan Allah SWT pada hari kemudian, sesuai dengan firman- Nya dalam al-Qur’an: Bacalah lembaran (kitabmu), cukuplah engkau sendiri hari ini yang melakukan perhitungan atas dirimu (Qs. 17:14). Catatan itu dapat dipastikan tidak ada yang terlewatkan apalagi hilang ditelan oleh masa dan peristiwa. Sebab Allah SWT memerintahkan secara khusus dua orang malaikat untuk mencatat perbuatan manusia. Jika perbuatan baik, maka akan dicatat oleh malaikat Raqib dan jika perbuatan jahat, maka akan dicatat oleh malaikat Atid. Kedua malaikat ini adalah pencatat amal baik maupun buruk yang paling ulung, tidak pernah alpa dan tidak bisa ditipu, apalagi disogok.

Oleh karena itu, manusia dituntut untuk melakukan introspeksi dan evaluasi diri dengan membaca terlebih dahulu lembaran catatan sejarah setahun yang lalu, untuk dijadikan sebagai patokan dalam menempuh dan mengisi tahun berikutnya. Namun sungguh sangat disayangkan, catatan akurat yang dilakukan oleh malaikat Raqib dan Atid itu, tidak dapat dibaca saat ini oleh umat manusia. Seandainya catatan itu dapat dibaca dan diperlihatkan kepada umat manusia, tentunya manusia akan semakin sadar dan banyak melakukan taubat kepada Allah SWT.

Membaca akan catatan itu sangat penting, sebab Nabi Muhammad SAW bersabda: Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka dia termasuk dalam kategori orang yang beruntung. Barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, maka dia termasuk dalam kategori orang yang merugi dan barang siapa yang hari ini lebih jelak dari hari kemarin, maka dia termasuk dalam kategori orang yang celaka. Hadist ini memberikan isyarat, bahwa hidup ini harus mengalami perubahan dan perbaikan ke arah yang lebih baik dari waktu ke waktu. Perubahan itu dapat dilakukan masing-masing individu dan masyarakat sesuai firman Allah: Tuhan tidak akan mengubah keadaan [nasib] suatu kaum, sebelum mereka mengubah terlebih dahulu sikap mental (nasib) mereka sendiri (Qs. 13:11).

Tiga Kesadaran

Kesadaran akan mengubah keadaan tersebut adalah kesadaran paling pertama dan utama yang harus kita lakukan dalam menghadapi pergantian tahun baru hijriah ini, sehingga dengan demikian, tahun baru hijriah ini diharapkan, keadaan kita, baik secara peribadi, keluarga, masyarakat maupun dalam berbangsa dan bernegara akan mengalami perbaikan pada tahun yang akan datang, sebab tanpa ini mustahil kita bisa keluar dari krisis yang melanda bangsa ini. Apalagi dari sekian banyak krisis yang dihadapi oleh bangsa ini yang paling berbahaya adalah krisis iman dan akhlak. Iman dan akhlak adalah dua benteng pertahanan utama yang dapat melindungi derajat seseorang, sehingga tidak terjatuh ke lembah yang paling hina, yaitu lebih rendah derajatnya dari binatang.

Kesadaran yang kedua adalah kesadaran akan nilai-nilai kemanusiaan dan kehormatannya, sebab manusia adalah makhluk tertinggi ciptaan Tuhan yang dalam dirinya telah ditiupkan Ruh Tuhan. Oleh karena itulah, maka setiap manusia dituntut untuk dapat mewujudkan sifat-sifat ilahiyah dalam dirinya, sesuai dengan kemampuan masing-masing, sehingga dengan demikian yang bersangkutan, selain menghargai dan menghormati dirinya sendiri, juga menghargai dan menghormati orang lain. Penghormatan akan diri dan kehormatan orang lain, sesuatu yang harus dijaga secara terus menerus, sebab tanpa adanya kehormatan, derajat manusia yang lebih tinggi dari malaikat, akan hancur sama sekali. Hal itu berarti bahwa manusia yang berperan dan mendapat mandat sebagai khalifatullah di muka bumi, bisa dicabut oleh Allah SWT.

Kesadaran yang ketiga adalah kesadaran akan nilai-nilai tangungjawab sosial. Manusia selain dituntut untuk menjalin hubungan secara vertical dengan Allah SWT, disebut dengan hab- lum minallah, juga dituntut menjalin hubungan secara horizon- tal dengan sesama umat manusia, disebut dengan tanggungjawab sosialnya. Tanggungjawab social ini kelak akan dipertanggung- jawabkan di hadapan Allah SWT. Oleh karena itu, Allah berfirman dalam al-Qur’an: Mengapa kalian tidak berjuang di jalan Allah, sedangkan kaum lemah yang tertindas, baik laki-laki, wanita maupun anak-anak, bermohon agar mereka dikaruniai penolong dan pelindung dari sisi Allah (Qs. 4:75).

Apabila ketiga kesadaran tersebut dapat diwujudkan dalam memasuki pergantian tahun baru hijriah ini, maka kita dan bangsa kita akan termasuk dalam kategori yang beruntung, bukan merugi apalagi celaka sesuai hadist nabi di atas. Dengan demikian, insya Allah, lembaran catatan sejarah kita kelak, akan diterima dengan tangan kanan (Qs. 17:71) sebagai pertanda kebahagiaan. Sebaliknya, jika lembaran catatan sejarah kita kelak, diterima dari sebelah kiri, itu adalah sebagai pertanda kecelakaan dan kebinasaan. Mari sejenak merenung di akhir, awal dan pergantian tahun hijriyah ini, apakah kira-kira catatan lembaran sejarah kita setahun yang lalu, akan diberikan Tuhan melalui sebelah kanan ataukah sebelah kiri. Kalau kita mau jujur, hanya diri kita sendiri dan Tuhan yang mengetahuinya.

Jika hal-hal tersebut di atas dapat kita lakukan, itu berarti bahwa kita telah dapat menggapai hikmah terbesar dari pergan- tian tahun baru hijriah ini.

Wallahu a’lam.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.