Oleh
Mukhtar Hadi
Memimpin adalah menderita. Kalimat ini bukan sebuah hadits, bukan juga bersumber dari satu ayat sebuah kitab suci. Tidak jelas siapa ahli hikmah yang mengatakan pertama kali. Namun, dahulu kala, di awal-awal kemerdekaan bangsa, Mr.Kasman Singodimejo sering menyebutkan kalimat tersebut dalam pidato-pidatanyo. Pun juga, Agus Salim, tokoh yang ikut berjuang dalam membangun pondasi negara Indonesia, sering juga mensitir kalimat itu. Boleh jadi kalimat itu semacam refleksi batiniah yang bersumber dari pengalaman mereka saat dipercaya sebagai pemimpin.
Mari mencoba menyelami makna dari kalimat singkat tersebut dengan memahami makna pemimpin, memimpin dan kepemimpinan dalam perspektif zaman ini. Umumnya orang memahami, menjadi pemimpin adalah anugerah, kehormatan dan kebanggaan. Sebagian orang bahkan untuk memperoleh anugerah itu bersedia menghalalkan segala cara. Memoles citra diri, kasak kusuk, meloba lobi sana sini, agar supaya dipilih, ditunjuk atau ditetapkan sebagai pemimpin. Mungkin itu yang dalam teori Maslow termasuk salah satu kebutuhan dasar primitiif manusia yaitu kebutuhan akan aktualisasi diri. Kebutuhan akan pengakuan dari orang lain. Kadarnya saja yang tidak sama. Ada yang wajar-wajar saja, setengah ambisius atau bahkan yang sangat ambisius.
Sebagian orang yang belum pernah memimpin, beranggapan menjadi pemimpin adalah kedudukan yang sangat diidamkan. Semakin tinggi jabatan tentu akan semakin menyenangkan. Bagaimana tidak. Di sana ada status, kekuasaan, penghormatan, fasilitas dan tentu saja finansial. Namun yang orang sering lupa, esensi kepemimpinan adalah tanggungjawab, amanah, pengabdian, pelayanan, kewenangan yang dibatasi aturan, keadilan, keikhlasan dan kejujuran. Dibalik kedudukan dan fasilitas, ada makna hakiki mengapa seseorang diamanahi sebagai pemimpin. Jika melihat tanggungjawab ini, semestinya orang tidak perlu berebut jabatan dan meminta supaya menjadi pemimpin.
Barangkali itulah sebab mengapa Kasman Singodimejo dan Agus Salim sering mengulang-ulang kalimat singkat di atas: Memimpin adalah menderita. Di saat orang biasa cukup disibukkan dengan mengurus dirinya sendiri, para pemimpin disibukkan dengan urusan orang lain. Dituntut tanggungjawab lebih, menjadi abdi yang melayani, bersikap adil terhadap semua orang, mensejahterakan yang dipimpinnya. Para pemimpin dituntut mengambil keputusan yang kompleks dan rumit. Ketika keputusan sudah diambil ia ditinggal sendirian dalam kesepian, menunggu cacian dan hujatan jika keputusannya salah atau tidak menyenangkan banyak orang. Jika toh keputusannya benar, terkadang juga tidak ada yang peduli.
Para ahli manajemen menyatakan hal yang paling berat dan sulit bagi seorang pemimpin adalah pengambilan keputusan (dicision making). Mengapa sulit? Karena melibatkan resiko tinggi, ketidakpastian dan dampak jangka panjang bagi banyak pihak. Pemimpin seringkali dihadapkan pada situasi yang komplek dimana mereka harus memiliki berbaga pilihan yang memiliki bobot yang sama-sama kuat, atau sama-sama merugikan atau berdampak resiko besar. Konflik kepentingan, dilema emosional dan tekanan eksternal ikut memberikan pressure ketika keputusan harus segera diambil. Tidak boleh menggantung tanpa keputusan, karena jika tidak dia akan dianggap sebagai pemimpin yang lemah dan tanpa pendirian. Namun ketika diputuskan, pemimpin harus memikul beban tanggungjawab dan resiko sendirian. Ia mendengus kelelahan di balik meja kerja menunggu palu godam akibat dari keputusannya. Karena itulah, memimpin adalah kesepian. Kasihan !.
Kunci memimpin adalah melayani. Para pemimpin adalah pelayan bagi yang dipimpinnya. Karena itulah para pemimpin bangsa, pemimpin masyarakat, pegawai pemerintah disebut abdi negara atau abdi masyarakat. Abdi artinya pembantu atau pelayan. Tugas abdi adalah melayani bukan minta dilayani. Banyak para pemimpin yang memaknai makna abdi ini sebagai sikap total memberikan pelayanan yang terbaik. Mengutamakan kepentingan yang dipimpinnya melebihi kepentingan dirinya sendiri atau orang-orang terdekatnya. Dia korbankan dirinya demi amanah dan tanggungjawab yang dipikulkan ke pundaknya. Rasulullah Muhammad, Umar bin Khatab, Umar bin Abdul Azis, Mahatma Ghandi, dan masih banyak yang lainnya. Mereka telah memberikan contoh otentik. Jangankan memperkaya diri, para pemimpin ini justru menjadi bagian dari deretan orang yang masuk kelompok fakir miskin.
Aneh, jika masih banyak orang ingin menjadi pemimpin. Bahkan memperebutkannya. Padahal di dalamnya penuh dengan penderitaan dan rasa kesepian. Mungkin hukum kehidupan memang harus demikian. Kalau semua orang tidak mau menjadi pemimpin karena takut menderita, lalu siapa yang mengurusi urusan orang banyak. Berarti pemimpin harus tetap ada. Kuncinya sikapi sewajarnya saja, jangan terlalu di kejar-kejar. Letakkan jabatan itu di tangan dan pundakmu, jangan letakkan di dalam hatimu. Kekuasaan adalah anugerah dari Allah SWT dan suatu saat akan dicabut oleh-Nya.
قُلِ اللّٰهُمَّ مٰلِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِى الْمُلْكَ مَنْ تَشَاۤءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاۤءُۖ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاۤءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاۤءُ ۗ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۗ اِنَّكَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ
“Katakanlah (Muhammad), “Wahai Tuhan pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali-Imron: 26).
Para pemimpin yang menggunakan kekuasaan dengan benar, penuh keikhlasan dan semata-mata mengharap Ridlo-Nya, maka ia akan senantiasa dalam bimbingan Allah SWT, Tuhan Pemilik Kekuasaan. Kekuasaan itu akan memuliakannya di dunia dan akhirat. Tetapi para pemimpin yang pongah dan hanya bangga dengan kekuasaannya, menyalahgunakan amanah, bersikap semena-mena, tunggu saja kehinaan bagi dirinya. Yang paling sederhana ia akan menderita post power syndrom, yaitu penderitaan psikis ketika lepasnya jabatan dan hilangnya kekuasaan. )(