metrouniv.ac.id – 17/12/2025 – 26 Jumadil Akhir 1447 H
Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Ketua Senat/Dosen UIN Jurai Siwo Lampung)
Bangsa Indonesia memiliki banyak kearifan sosial yang berhubungan dengan pesan spiritual atau pesan-pesan kebaikan. Kearifan-kearifan itu salah satunya ditransmisikan dan digetoktularkan lewat medium bahasa. Diantaranya adalah lewat pepatah dan kata-kata bijak. Ada banyak pepatah yang berisi pesan moral dan pesan-pesan kebajikan yang dahulu pernah diajarkan di sekolah, khususnya dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia.
Diantara ratusan pepatah yang pernah diajarkan adalah kata pepatah yang berbunyi: “Sekali Lancung ke Ujian, Seumur Hidup Orang Tidak Percaya”. Maknanya kurang lebih, jika seseorang melakukan tindakan ketidakjujuran atau tindakan amoral lainnya sekali saja, maka setelah itu ia akan kehilangan kepercayaan dari orang lain. Harga dirinya hancur dan reputasinya akan lenyap seketika. Seperti halnya panas setahun dihapus dengan hujan sehari. Sekali orang berbuat kesalahan yang fatal, pelanggaran moral yang serius, maka semua kebaikan yang selama ini dilakukan meskipun banyak soalah-olah hilang ditelan bumi. Orang sudah lupa dengan kebaikannya, yang diingat hanya keburukan terakhir yang dia lakukan.
Betapa banyak orang yang selama ini dikenal baik, terhormat, dan orang memiliki harapan besar terhadapnya, namun karena perbuatan buruk dan tercela yang ia lakukan, maka semua kebaikan, kehormatan dan reputasinya lenyap seketika. Banyak contoh di sekitar kita. Ada seorang politisi ternama, dikenal sebagai seorang bapak yang sayang dan cinta dengan keluarga. Orang menyebutnya family man. Menurut para perempuan, politisi itu disebut sebagai laki-laki idaman. Mempunyai karir bagus sebagai politisi dan digadang-gadang sebagai pemimpin masa depan.
Tiba-tiba badai datang, seorang perempuan menggugat bahwa ia memiliki anak darinya. Terjadi hubungan seksual di luar pernikahan. Walaupun Si politisi ini membantah, namun publik percaya bahwa ia telah melakukan perzinahan. Dia gagal dan lancung dalam ujian kehidupan. Setelah itu karir politiknya meredup, dihujat sana sini. Reputasi yang dibangunnya selama ini dengan segala pencitraannya hancul lebur. Orang sudah tidak percaya lagi.
Pada tempat lain, ini masih soal politisi yang lancung dalam ujian kehidupan. Seorang politisi telah berhasil memikat hati masyarakat dengan segala janji politiknya. Ia pada akhirnya terpilih menjadi kepala daerah. Namun apa lacur, baru beberapa bulan dilantik dan menjabat ia tertangkap tangan lembaga anti rasuah. Didakwa melakukan korupsi dengan modus setoran proyek. Setiap rekanan yang mendapatkan proyek infrastruktur dimintai setoran sekian persen dan sekian persen.
Padahal di mata masyarakat ia dikenal sebagai pejabat publik yang merakyat. Segala persoalan dan keluhan masyarakat segera ia selesaikan. Namun ternyata semua itu tidak tulus. Ada udang di balik batu, yaitu mencari keuntungan pribadi dengan cara yang culas dan lancung. Karir politik yang sudah lama dibangun dan kemenangan yang baru saja diraihnya dalam waktu singkat sirna. Ditangkap lembaga anti rasuah dan dijebloskan dalam jeruji besi. Malu tentu saja, bukan hanya dirinya tetapi juga keluarga besarnya. Di mata masyarakat dan seluruh manusia ia menjadi hina dina.
Cerita di atas soal politisi. Ada juga cerita yang lain, yaitu soal orang alim dan ahli ibadah yang juga lancung dalam ujian kehidupan. Ada seorang ahli ilmu, ia disebut oleh masyarakat sebagai ulama, ustad, kyai dan sebutan mulia yang sejenisnya. Punya madrasah dengan murid yang banyak. Pengaruhnya besar di mata umat, bahkan menjadi panutan dalam hal keluasan ilmu agama serta dikenal sebagai rajin ibadah. Namun suatu hari, ada salah seorang murid perempuannya melaporkan dia ke polisi dengan tuduhan pemaksaan persetubuhan. Dengan segala pengaruhnya ia melakukan pelecehan seksual kepada muridnya. Ternyata korbannya bukan hanya satu. Setelah satu orang melapor korban yang lain punya keberanian untuk speak up. Ada beberapa murid perempuan menjadi korban. Mencuatnya kasus ini membuat reputasi Sang Ustad dalam sekejap juga lenyap. Ia dihinakan oleh banyak orang.
Demikianlah beberapa contoh orang-orang yang lancung dalam ujian. Gagal dalam menjaga amanah kebaikan yang diwasiat oleh Allah SWT kepada dirinya. Ia terjun dalam maksiat dan perbuatan dosa besar. Itulah pentingnya saling mengingatkan tetap dalam kebaikan, supaya kita tidak terjerumus dalam perbuatan dosa yang dapat menghinakan diri kita sendiri. Orang-orang yang berbuat dosa seperti berzina, membunuh, mencederai amanah dengan korupsi, maka ia tidak hanya dihinakan oleh Allah SWT tetapi juga akan dihinakan oleh manusia lainnya.
Mari kita baca pesan Allah SWT dalam surat Al-Hajj ayat 18 di bawah ini:
اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ يَسْجُدُ لَهٗ مَنْ فِى السَّمٰوٰتِ وَمَنْ فِى الْاَرْضِ وَالشَّمْسُ وَالْقَمَرُ وَالنُّجُوْمُ وَالْجِبَالُ وَالشَّجَرُ وَالدَّوَاۤبُّ وَكَثِيْرٌ مِّنَ النَّاسِۗ وَكَثِيْرٌ حَقَّ عَلَيْهِ الْعَذَابُۗ وَمَنْ يُّهِنِ اللّٰهُ فَمَا لَهٗ مِنْ مُّكْرِمٍۗ اِنَّ اللّٰهَ يَفْعَلُ مَا يَشَاۤءُ ۩ۗ
“Tidakkah engkau tahu bahwa siapa yang ada di langit dan siapa yang ada di bumi bersujud kepada Allah, juga matahari, bulan, bintang, gunung-gunung, pohon-pohon, hewan-hewan yang melata dan banyak di antara manusia? Tetapi banyak (manusia) yang pantas mendapatkan azab. Barangsiapa dihinakan Allah, tidak seorang pun yang akan memuliakannya. Sungguh, Allah berbuat apa saja yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Hajj: 18)
Manusia yang banyak berbuat maksiat dan dosa seharusnya memiliki rasa malu, karena makhluk ciptaan Allah yang lain di seluruh langit dan bumi termasuk matahari, bulan, bintang, pohon-pohon serta hewan-hewan, semuanya tunduk dan patuh kepada Allah SWT. Mereka tidak ada yang melanggar perintah Allah SWT. Tetapi manusia banyak yang melanggar perintah dan melakukan segala hal yang dilarang-Nya. Ada manusia yang dengan ringan berbuat dosa, merasa tidak bersalah dan tanpa beban, meskipun ia melakukan perbuatan dosa besar. Sangat pantas jika manusia seperti ini dihinakan oleh Allah dan tidak ada seorangpun yang menghargai dan memuliakannya. Di akhirat ia dihinakan oleh Allah SWT dan di dunia ia dihinakan oleh manusia lainnya. (mh)