“Cooking is an art; baking is a science”
metrouniv.ac.id – 22/12/2025 – 2 Rajab 1447 H
Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan UIN Jurai Siwo Lampung)
Sandiago telah lama merantau. Menjalani hidup jauh dari tanah kelahiran. Tertempa melakukan banyak hal sendirian. All by himself. Dan setelah puluhan Desember, ia menjadi mahir dalam banyak hal. Tak heran, ia bisa memasak (cooking) ragam masakan nusantara. Ia juga jago membuat roti dan kue-kue sederhana (baking). Dengan pengalamannya yang kaya, Sandiago mengamini sebuah pameo: bahwa memasak adalah seni, dan membuat roti adalah sains.
Memasak adalah seni? Iya. Memang ada aturan-aturan dasar di dalamnya. Namun selebihnya, memasak memerlukan sikap adaptif, fleksibel, kreatif, dan mungkin juga intuitif. Juru masak mestilah adaptif terhadap ketersediaan bahan. Apa yang disediakan oleh alam; apa yang ada di pasar; dan apa yang tersedia di dapur, itulah bahan baku yang mesti diolah. Juru masak jugalah harus fleksibel. Yaitu menyesuaikan ketersediaan bahan baku dengan selera dan kondisi ‘konsumen’. Ia juga mestilah kreatif terkait detail dan timing penyajian masakan. Puncaknya, ia seringkali harus mengandalkan intuisi dalam menghadirkan cita rasa masakannya. Di negeri Minang, ada istilah lake’ tangan atau personal touch yang memengaruhi cita rasa makanan. Penggunaan bahan dan resep yang sama, di tangan juru masak yang berbeda, akan menghasilkan cita rasa yang tidak sama. Dan barangkali, personal touch itulah titik intuitifnya. Sebuah titik yang menjadikan cooking sebagai seni. Sebuah titik yang mungkin saja bisa dinarasikan, namun tidak sepenuhnya dapat dijelaskan. Karena, begitulah seni.
Yang hampir sepenuhnya bisa dijelaskan dan diduplikasi secara presisi adalah sains. Seperti pembuatan roti (baking) yang adalah sains, karena sangat berbasis formula, terstruktur, dan terukur. Tidak heran, resep, pengolahan, dan takaran yang sama, akan selalu menghasilkan cita rasa yang sama, meskipun dijalankan oleh orang yang berbeda. Meskipun suasana hati orangnya sedang gundah gulana. Asal bahan, struktur, dan prosedurnya sesuai ‘teks’, hasil akhirnya akan sesuai standar yang telah ditetapkan (standardized). Lalu, intuisi? Personal touch? Tampaknya boleh dikesampingkan dalam baking. Karena baking seperti sains, yang lebih bersandar pada presisi dan standardisasi. Karena itu, sains bisa sepenuhnya dijelaskan.
Syahdan, bagi Sandiago, cooking dan baking adalah berbeda. Namun bukanlah dua untuk dipertentangkan. Keduanya justru saling melengkapi, complementary. Di matanya, seni lahir dari sains, dan sains menemukan bentuk puncaknya melalui seni. Sains menghasilkan cat warna yang berkualitas dan presisi, sementara seni menghasilkan lukisan yang menggugah hati.
Kini, sebagai seorang pengajar di perguruan tinggi, Sandiago menerapkan mindset seni dan sains secara kombinatif. Mengikuti mindset sains-nya, Sandiago menyusun Rencana Pembelajaran Semester (RPS) atau classroom scenario karena percaya pada sesuatu yang terencana, terstruktur, terukur, dan terstandar. Dalam mindset sains-nya, peserta didik terlihat sama, identik, dan linier. Lalu, mengikuti mindset seni-nya, Sandiago berperan sebagai fasilitator yang adaptif dan fleksibel yang memandang setiap peserta didiknya sebagai individu yang unik, yang karenanya tak patut mendapat pendekatan yang seragam. Di negeri Jawi, orang berkata: tidak bisa digebyah uyah. Di titik itu, Sandiago kerap menggunakan intuisinya.
Hingga di suatu hari, Sandiago terdengar memberi instruksi kepada mahasiswanya, “Sahabat mahasiswa, sains terlihat jelas dalam karya non-fiksi, sedang seni tergambar pada karya fiksi. Bacalah non-fiksi, karena itu bagus untuk kognitif, wawasan, dan inteljensia. Lalu bacalah fiksi karena itu juga bagus untuk afektif, empati, dan intuisi. Sains dan seni ada untuk dipertemukan, alih-alih untuk diperseterukan.” Wallahu a’lam.