metrouniv.ac.id – 24/03/2025 – 24 Ramadhan 1446 H
Dr. Mukhtar Hadi, M.Si. (Direktur Pascasarjana IAIN Metro)
Tulisan ini bukan mbahas seorang tokoh besar muslim keturunan Cina seperti Laksamana Cheng Ho dari Dinasti Ming yang melakukan penjelajahan pada tahun 1400-an ke 37 negara termasuk ke Indonesia. Atau tokoh besar muslim keturuanan Cina lainnya seperti Oi Ing Kiat, seorang muslim keturunan yang menjadi tokoh sentral dalam Perang Kuning (1741-1743) dimana ia mengorganisisr laskar Tionghoa, Jawa dan para santri untuk menyerang penjajah Belanda. Bukan, bukan soal orang yang besar-besar itu. Sesuai judul, Muhammad Lu Ching Wei adalah orang biasa-biasa saja keturunan Cina yang berasal dari Taiwan.
Alkisah, sepuluh tahun yang lalu seorang perempuan muda berasal dari Kediri, Jawa Timur, mengadu nasib menjadi pekerja migran di Taiwan. Kondisi ekonomilah yang mendorongnya untuk bekerja ke luar negeri seperti halnya tetangga satu kampungnya yang bernasib sama. Tujuannya mengubah nasib agar menjadi lebih baik. Di negeri sendiri pekerjaan begitu sulit di dapat apalagi hanya bermodalkan ijazah SMA atau SMP. Perempuan muda itu bernama Siti Marhamah, nama yang siapapun bisa memperkirakan asal usul dirinya. Perempuan jawa dari kalangan kelas ekonomi menengah ke bawah.
Di Taiwan, Siti Marhamah bekerja menjadi seorang asisten rumah tangga di sebuah keluarga Taiwan. Tugas utamanya bukan bersih-bersih rumah, memasak atau mencuci baju dan menseterika, tetapi merawat orang yang sakit. Orang sakit yang dirawat bukan orang tua jompo atau lansia seperti kebanyakan tugas asisten rumah tangga asal Indonesia di Taiwan.
Siti merawat seorang perjaka tua yang selurah aktivitasnya hanya dapat dilakukan di tempat tidur karena separuh tubuhnya mengalami kelumpuhan. Perjaka tua ini dulu adalah seorang yang gagah dan tampan dengan karir yang bagus, badannya tinggi, kulitnya kuning bersih seperti halnya orang-orang Asia Timur. Penyebab separuh badannya tidak bisa digerakkan karena peristiwa kecelakaan. Kecelakaan tragis yang dialaminya bukan hanya menyebabkan kelumpuhan separuh tubuhnya tetapi aktivitas makan dan buang air semuanya harus dilakukan dengan menggunakan alat. Seumur hidup, karena menurut dokter sudah tidak bisa disembuhkan.
Begitulah Siti sehari-hari bekerja. Merawat perjaka tua yang seluruh hidupnya dihabiskan di tempat tidur. Pekerjaan yang menjenuhkan dan tanpa jenjang karir. Namun itu tetap disyukurinya karena masih lebih baik dibandingkan jika ia tidak mengambil keputusan menjadi pekerja migran. Ia bisa menjadi pengangguran di negeri sendiri. Gaji dari tempatnya bekerja sebagian digunakannya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya di Taiwan, sebagian untuk ditabung dan investasi, dan sebagian lagi dikirimkan ke Indonesia untuk biaya hidup kedua anaknya yang dia tinggalkan. Siti pernah menikah dan dikaruniai dua orang anak, namun entah apa masalahnya ia berpisah dengan suaminya.
Hujan emas di negeri orang, lebih baik hujan batu di negeri sendiri. Begitu kata pepatah bangsa kita Indonesia. Seberapapun mudah dan nikmatnya Siti mencari nafkah di negeri orang, negeri sendiri tetap melambai-lambai memanggil. Kerinduan akan tanah air dan keluarganya, keindahan negeri sendiri dan masakannya seperti kekasih tercinta yang lama tidak berjumpa. Lagi pula sudah hampir sepuluh tahun ia merantau. Dalam hati, ia tidak mungkin seumur hidup di Taiwan. Dia harus pulang ke tanah air, menata kembali kehidupan yang ditinggalkan dengan bermodalkan penghasilan yang ia tabung selama ini.
Di luar itu semua, rupanya ada seorang duda muda yang sudah menunggunya di Lampung. Salah seorang kawannya dari Lampung yang sama-sama bekerja di Taiwan mengenalkannya dengan seorang duda muda itu. Tidak ada yang salah, ia seorang janda dan berkenalan dengan seorang duda. Sama-sama tanpa pasangan. Hubungannya dibangun lewat sosial media, sehingga soal jarak tidak ada kendala. Taiwan dan Lampung dihubungkan dengan facebook dan WhatsApp atau WA. Dalam hati, ia tidak ingin kembali ke Kediri, tetapi ke Lampung hidup bersama dengan pujaan hatinya.
Mendengar Siti akan berhenti bekerja dan kembali ke Indonesia, perjaka tua yang dirawatnya ini menangis sesenggukan. Bertahun-tahun bersama, ia merasakan hubungannya dengan Siti bukan lagi antara pekerja dan majikan, namun ia merasa sudah seperti saudara. Dia sudah sangat cocok dengan pembantunya ini, dia tidak bisa membayangkan kalau dirinya dirawat oleh orang lain. Dia mengatakan” Siti lebih baik saya mati saja jika kamu akan pergi dan pulang ke Indonesia, apa kamu tidak kasihan dengan saya”. Siti menjawab, “Terus gimana Ko, saya juga tidak mungkin selamanya di sini. Saya harus pulang dan menikah untuk meneruskan kehidupan saya”. Lalu majikannya mengatakan “Kalau begitu, jika tidak keberatan saya akan ikut kamu ke Indonesia”. Begitulah dialog angtara majikan dan pembantunya.
Singkat cerita, majikan Siti benar-benar ikut ke Indonesia, tepatnya di daerah Lampung. Dengan bantuan kekasih Siti yang duda itu, segala persiapan penyambutan kedatangan Siti dan majikan telah dipersiapkan. Rumah kontrakan yang akan ia tempati kelak, bed tempat tidur listrik seperti ranjang tempat tidur pasien rumah sakit pun sudah dibelikan, dan keperluan lainnya, tentu semua itu dengan uang kiriman dari Siti. Konon katanya, banyak pekerja migran Indonesia yang bekerja di Taiwan dan Hongkong pulang dengan membawa orang-orang yang diasuhnya. Dalam kasus Siti, tidak tahu mengapa majikan yang dirawatnya sangat ngotot ingin hidup atau bahkan sampai mati dalam perawatan Siti. Boleh jadi karena sistem kekerabatan di Taiwan yang cenderung individualis dan tidak dekat antara keluarga satu dengan anggota keluarga yang lainnya. Sehingga ketika ada anggota keluarga yang membutuhkan bantuan perawatan secara khusus yang lain cenderung kurang peduli.
Hal pertama yang dilakukan majikan Siti begitu sampai ke Indonesia adalah berpindah keyakinan menjadi seorang muslim. Tidak jelas apa alasan ia menjadi muallaf. Boleh jadi karena ia ingin seperti perawatnya, si Siti yang seorang muslim. Namanya diubah menjadi Muhammad Lu Ching Wei dari yang sebelumnya bernama Keke, begitu ia biasa dipanggil. Sebagai seorang muslim yang baru bersyahadat, Muhammad Lu Ching Wei sangat antusias belajar Islam. Belajar shalat, belajar membaca Al-Qur’an, belajar dzikir, dan lain sebaginya. Semuanya dilakukan di tempat tidur dan untuk itu Siti berusaha mencarikan guru ngaji. Lu Ching Wei sangat suka mendengarkan bacaan Qur’an dan bacaan shalawat.
Sudah hampir dua tahun Muhammad Lu Ching Wei tinggal di Indonesia dan ia memilih menjadi warga negara Indonesia. Selama dua tahun itu, Siti merawatnya dengan telaten dan penuh tanggungjawab. Hingga beberapa hari yang lalu di suatu pagi, Siti bergegas datang ke rumahku. Meminta agar aku bisa ke rumah kontrakannya untuk melihat Lu Ching Wei. Segera aku ke rumahnya dan diajak ke ruang kamar tempat Lu Ching Wei yang selama kurang lebih dua tahun ini ia tempati. Aku merasa shock dan terpana menatap sosok didepanku. Sesosok lelaki yang terbaring lemah tidak berdaya dengan badan yang kurus kering dan kaku seperti papan. Coba ku sapa, masih memberikan respon meskipun sangat berat. Matanya tertutup, mulutnya terkunci rapat dan kesadarannya setengah hilang. Aku bisikkan ke telinganya supaya bisa mengikuti kata-kataku: La Illaha Illallahu, Muhammadur Rasulullah. Beberapa jam kemudian, Siti mengabarkan kepadaku bahwa Muhammad Lu Ching Wei telah berpulang ke haribaan Sang Maha Pencipta, Allah SWT.
Selamat jalan saudaraku, semoga Allah memudahkan jalanmu menuju surga jannatun na’im. Aku tertegun dan berfikir, sungguh engkau telah menjadi manusia hebat. Berpuluh tahun berada dalam pembaringan yang sepi dan engkau melewatinya dengan penuh ketabahan dan kesabaran. Hormat kepada Siti yang sudah merawat hingga sampai akhir hayatmu. Bersyukur menjadi orang Indonesia yang masih memiliki budaya kekerabatan yang kuat, yang jika ada anggota keluarganya yang membutuhkan perawatan maka saudara yang lain dengan sukarela akan merawatnya.
Pada hari kesepuluh Bulan Ramadhan tahun ini, dengan diiringi gerimis kecil, kami semua tetangga kanan kiri, sebagai keluarga sesama muslim mengantarkan Muhammad Lu Ching Wei ke tempat peristirahatan terakhirnya. Mungkin tidak pernah terbayangkan oleh Muhammad Lu Ching Wei bahwa ia akan meninggal dan dimakamkan di Indonesia. Negara yang sangat jauh dari negeri tempat ia dilahirkan,Taiwan.