Puasa Arafah, Puasa 9 Dzulhijjah Tak Harus Bersamaan Wukuf

(alamislam.com) – Sebagian kaum muslimin memahami bahwa pelaksanaan
puasa Arafah mesti berbarengan dengan wukufnya jamaah haji di Arafah.
Pemahaman ini benar dan berlaku bagi kaum muslimin yang berada di Mekkah
dan sekitarnya yang tidak melaksanakan ibadah haji. Yang demikian itu
karena wukuf di Arafah dilaksanakan pada tanggal 9 Dzulhijjah menurut
rukyah hilal yang dilakukan oleh penduduk Mekkah.

Sedangkan kaum muslimin yang berada di daerah yang jauh dari Mekkah,
maka pendapat yang lebih kuat adalah melaksanakan puasa Arafah pada
tanggal 9 Dzulhijjah menurut rukyah hilal yang mereka lakukan di negeri
mereka. Dasar pijakan kesimpulan ini adalah sebagai berikut:

1.      Sejarah pensyariatan (tarikh tasyri’) puasa Arafah dan shalat Idul Adha.

Puasa Arafah disyariatkan pada tahun kedua —ada juga riwayat yang
menyebutkan tahun pertama— setelah hijrah bersamaan dengan
disyariatkannya shalat Idul Fitri dan Idul Adha. Adapun wukuf di Arafah
sebagai bagian dari manasik haji, disyariatkan pada tahun keenam setelah
hijrah.

Maknanya, pada tahun kedua, ketiga, keempat, dan kelima setelah
hijrah, Rasulullah saw dan para sahabat telah melaksanakan puasa Arafah
tanpa ada seorang pun melaksanakan wukuf di Arafah. Saat disyariatkan,
puasa Arafah tidak dikaitkan dengan peristiwa wukuf di Arafah. (Lihat: Zaadul Ma’ad, II/101, Fathul Bari, III/442; Hasyiyah Al-Jumal, VI/203; dan Subulus Salam, I/60)

2.      Tiga Nama Puasa Arafah.

Puasa Arafah disebut dalam hadits dengan beberapa nama, yaitu:

a. Puasa Tis’a Dzuhijjah.

عَنْ بَعْضِ أَزْوَاجِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم-
قَالَتْ : كَانَ رَسُوْلُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَصُومُ تِسْعَ ذِى
الْحِجَّةِ ، وَيَوْمَ عَاشُورَاءَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ
شَهْرٍ

Salah seorang istri Nabi saw. menyampaikan, “Rasulullah saw. biasa
melaksanakan puasa pada hari kesembilan Dzulhijjah, hari ‘Asyura, dan
tiga hari setiap bulan (tanggal 13, 14, dan l5 bulan hijriah).” (Sunan Abu Dawud, VI/418; Musnad Ahmad, hadits no. 21302 dan 25263; dan As-Sunan Al-Kubra lil Bayhaqi, IV/285)

b. Puasa Al-’Asyru

أَرْبَعٌ لَمْ يَكُنْ يَدَعُهُنَّ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى
اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِيَامَ عَاشُورَاءَ وَالْعَشْرَ وَثَلَاثَةَ
أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَالرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاةِ

“Empat perkara yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah saw.: puasa ‘Asyura, puasa al-asyru (sepuluh hari awal Dzulhijjah)[1][1], puasa tiga hari setiap bulan dan shalat dua rakaat sebelum shalat Subuh.” (Musnad Ahmad, hadits no. 26521 dan Sunan An-Nasa’i, II/238)

c. Puasa Arafah

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ رضي الله عنه سُئِلَ رَسُولُ اَللَّهِ
صلى الله عليه وسلم عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ. فَقَالَ: يُكَفِّرُ
اَلسَّنَةَ اَلْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

Abu Qatadah ra meriwayatkan bahwa Nabi saw pernah ditanya tentang
puasa Arafah. Beliau menjawab, “Puasa Arafah menghapuskan dosa setahun
yang lalu dan setahun yang akan datang.” (riwayat Muslim)

Berdasarkan ketiga penamaan ini dapat dipahami bahwa puasa Arafah
adalah puasa pada tanggal sembilan Dzulhijjah. Sebab jika puasa Arafah
dikaitkan dengan peristiwa wukuf di Arafah, tentunya puasa pada hari itu
tidak disebut dengan nama lain.

3. Fatwa Para Ulama

a. Ibnu Taimiyyah berkata, “Hendaknya orang-orang melaksanakan puasa
pada tanggal sembilan Dzulhijjah menurut kaum muslimin, meskipun
sebenarnya itu adalah tanggal sepuluh Dzulhijjah.” (Majmu’ Fatawa, XXV/202)

b. Ibnu Taimiyyah juga mengatakan, “Puasa pada hari yang diragukan,
apakah itu tanggal sembilan ataukah sepuluh Dzulhijjah, tanpa
diperselisihkan oleh para ulama adalah sah.” (Majmu’ Fatawa, XXV/203)

c. Ketika Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin ditanya tentang
puasa Arafah, apakah dilaksanakan berdasarkan rukyah di negeri tempat
seseorang tinggal, ataukah rukyah di tanah haram, beliau menjawab —yang
ringkasnya—hendaklah puasa dilaksanakan berdasarkan rukyah di negeri
tempat seseorang tinggal. (Fatawa wa Rasail Ibni Utsaimin, XX/47-48 dan XIX/41)

Pendapat ini diperkuat dengan realita belum majunya teknologi
komunikasi dan transportasi pada masa Salaf. Pada masa mereka,
perjalanan sehari hanya dapat menempuh jarak 40-50 km. Apabila rukyah
penduduk Mekkah dikabarkan ke Madinah, maka kabar itu baru sampai pada
tanggal 12 atau paling cepat 10 Dzulhijjah, karena jarak Mekkah-Madinah
adalah 498 km.

Maknanya, dapat dipastikan bahwa Rasulullah saw pun melaksanakan
puasa Arafah berdasarkan rukyah hilal penduduk Madinah, bukan rukyah
hilal penduduk Mekkah. Wallahu a’lam.

Author: Ust. Imtihan Asy-Syafi’i
Editor: A. Ahmad.


(Dikutip dan diselaraskan dari http://alamislam.com/puasa_arafah_puasa_9_dzulhijjah_tak_harus_bersamaan_wukuf_495.htm)


[1][1]
Penyebutan al-asyru (sepuluh) oleh Rasulullah adalah kiasan yang
maksudnya adalah sembilan hari awal Dzulhijjah, seperti perkataan “Ia
beriktikaf sepuluh hari terakhir Ramadhan” meskipun faktanya
kadang-kadang hanya sembilan hari. (Lihat Mura’atu Al-Mafatih Misykah Al-Mashabih, VI/401[red])