Sang Idealis Yang Ditunggangi Culture Feodalisme

55elfan

bagi sang Idealisme. Kejadian ini semakin mencuat kepermukaan dan menjadi
begitu lugas pasca orde lama, orde baru, dan reformasi. Kendati demikian tidak
ada yang peduli dengan nasib Sang Idealisme di zaman sekarang. Para peneliti
dan penulis kontemporer menyebutnya sebagai zaman generasi milineal. Bahkan
ada, yang menyatakan sekarang sudah memasuki zaman generasi Z.

Hal ini semakin miris ketika banyak kaum terdidik yang kehilangan
keidealismenya atau dapat dianatomikan “sang harimau yang kehilangan
kuku dan taringnya”
. Lantas pemikiran logis dari anatomi tersebut, “untuk
apa sang harimau itu hidup bila tidak mampu berbuat apa-apa”
. Pelan namun
pasti, sang harimau akan mati tanpa meninggalkan kuku dan taring namun yang
diwariskan adalah belang nya. Belang harimau merupakan kulit yang diambil dari
harimau yang sudah mati kemudian diawetkan dan dijadikan dompet, tas, jaket,
selimut atau barang-barang lainya yang memiliki nilai ekonomis. Terlepas dari
semua ketidakberdayaan sang harimau dalam kehidupan setidaknya masih ada yang
bermanfaat dari sang harimau yaitu belangnya. Dalam kasus sang harimau
setidaknya masih ada yang dapat dimanfaatkan walaupun cuman kulitnya. Akan
tetapi bagi Sang Idealisme yang telah kehilangan sikap idealisnya maka yang
tersisa adalah prilaku dan rekam jejak yang fana.

Teknologi yang semakin maju dan canggih telah menggerus batas-batas ruang
serta waktu. Menciptakan setiap informasi serta liteasi yang lengkap dengan
mudah dapat dikonsumsi oleh siapa pun, dimana pun, dan kapan pun. Faktor ini
seharusnya mampu meningkatkan keilmuan serta kesadaran kaum terdidik atas suatu
sikap dan paham idealisme. Namun, realita berkata lain faktor demikian malah
menjadi pemicu akan semakin terpuruknya sikap dan paham idealisme dikalangan
kaum terdidik. Sebutan kaum terdidik masa kini sangat beragam
 diantaranya, agen perubahan (agent of change), Sang Pelopor,
Cadangan Keras (iron stock), dan mahasiswa.

Mengacu pada judul di atas, timbulah sebuah pertanyaan bagaimana hubungan
antara idealisme dan feodalisme serta apa pengaruhnya bagi kaum terdidik
seperti mahasiswa. Terlebih dahulu penulis akan mencoba menjelaskan secara
singkat mengenai paham idealisme dan prilaku feodalisme. Kemudian hubungannya
di zaman sekarang dalam ruang lingkup pendidikan khususnya wilayah kampus. Hal
ini dirasa menjadi penting (urgent) sebab semakin kesini
semakin pudar idealisme dikalangan kaum terdidik. Sehingga penulis merasa perlu
untuk mengkritisi mahasiswa yang kehilangan keidealismenya dan melalaikan tugas
mereka dalam trilogi peranan mahasiswa.

Idealisme merupakan paham dalam aliran filsafat yang menganggap kebenaran
tertingi adalah cita-cita atau ide. Plato sendiri mengatakan dalam
filsafatnya bahwa “Kebaikan merupakan hakikat tertinggi dalam mencari
kebenaran.
 Tugas ide adalah memimpin budi manusia dalam
menjadi contoh bagi pengalaman. Siapa saja yang telah mengetahui ide,
 manusia
akan mengetahui jalan yang pasti, sehingga dapat menggunakannya sebagai
alat untuk mengukur, mengklarifikasikan dan menilai segala sesuatu yang dialami
sehari-hari.
 Dengan kata lain idealisme adalah nilai murni kebenaran yang
dipegang teguh oleh setiap individu sebagai prinsip kehidupan. Seorang idealis
akan terus hidup dengan keyakinan yang dimilikinya.

Berbicara tentang arti feodalisme berarti membahas suatu sistem sosial yang
mulai berkembang sejak abad ke-17 di Eropa. Namun perkembangannya paham
tersebut di Indonesia terjadi pada zaman kerajaan-kerajaan Hindu. Sejarah
mengatakan bahwa Hinduisme lebih dominan dan menjadi yang pertama berkembang di
Indonesia sebelum masuknya Islam dan Kolonialisme. Paham ini mencipatakan
kelas-kelas dalam sistem sosial seperti kelas bangsawan dan kelas bawahan.

Kelas bangsawan adalah mereka yang tergolong keluarga raja, seorang yang
memiliki kekuasaan atau berpengaruh besar dalam menentukan kebijakan pada
daerah kekuasaan nya. Sedangkan kelas bawahan adalah para prajurit serta rakyat
yang berdomisili di daerah kekuasaan sebuah kerajaan. Berdasarkan pembagian
manusia menjadi kelas-kelas tersebut berdampak pada mereka yang berada pada
kelas bangsawan bebas melakukan apa saja termasuk menindas mereka yang berada
di kelas bawahan. Meskipun peristiwa tersebut sudah terjadi berabad-abad di
masa lalu. Namun, pengaruhnya masih dapat dirasakan di zaman sekarang walapun
dalam bentuk yang lain.

Feodalisme yang berkembang di zaman sekarang telah menjelma menjadi kelas
elite yaitu penguasa dan kelas non elite yakni yang dikuasai. Prilaku
feodalisme menurut Euis Sundani dalam tulisanya pada tahun 2014 “Telah
berkembang dalam pemerintahan dan telah menjadi budaya bangsa Indonesia dalam
kehidupan.”
 Singkatnya feodalisme adalah sikap seseorang yang ingin
dipandang lebih, dihormati lebih dari yang lain, merasa dirinya lebih tinggi
dari pada orang lain dan kuasa untuk menentukan segalanya termasuk apa yang
harus dikerjakan oleh orang lain.

Hubungan antara idealisme dan feodalisme dalam lingkungan kampus terlihat
sangat lugas khususnya hubungan antara mahasiswa dan dosen. Saat ini, hubungan
tersebut begitu dilematis ketika mahasiswa yang diajarkan oleh dosen untuk
mampu berfikir kritis dalam melihat suatu permasalahan serta bertindak tegas
dalam setiap perbuatan. Kini mereka harus tunduk dan patuh kepada dosen yang
memiliki kewenangan dalam menentukan nilai indeks prestasi (IP) dari setiap
mahasiswa. Selain itu, bagi mahasiswa yang sudah menempuh semester akhir lebih
memilih untuk mengikhlaskan idealismenya guna ditukar dengan
kemudahan-kemudahan dalam menyusun tugas akhir ataupun skripsi. Hal demikian
disadari atau tidak disadari sudah terjadi disekitar kita, jika dibiarkan
terus-menerus maka akan semakin parah dan menjadi momok bagi kaum terdidik.

Mahasiswa yang terkenal memiliki pemikiran kritis, serta tindakan yang
tegas merupakan bentuk sikap yang harusnya dilakukan oleh sang idealisme di
lingkungan kampus. Namun, jika mahasiswa dibatasi atau bahkan dilarang untuk
bersikap idealis berarti mahasiswa telah dipaksa lalai terhadap trilogi peranan
mahasiswa oleh prilaku feodalisme. Trilogi peranan mahasiwa merupakan tiga
peran utama mahasiswa dalam kehidupanya. Yang pertama, yaitu peran sebagai
benteng moral dalam menciptakan perbaikan akhlak. Kemudian yang kedua, agen perubahan
dalam menciptakan kemajuan bangsa ini melalui sikap-sikap kritis serta solutif.
Selanjutnya yang ketiga, yaitu peran intelektual sehingga mahasiswa meupakan
cadangan keras dalam sebuah bangsa untuk tetap eksis serta terus berkembang
menjadi bangsa yang maju dan berkesinambungan.

Mahasiswa yang sudah kehilangan idealismenya, akan menjadi buta dan tuli
terhadap setiap kebenaran yang lahir dalam fikiran atau pun nuraninya. Sehingga
mereka hanya berfikir prakmatis dan melakukan perbuatan tanpa sadar yang
dilakukan adalah perbuatan benar ataupun salah. Bagi mereka yang terpenting
adalah mendapatkan hati atau empati yang baik dari dosen nya. Tidak peduli hal
yang dilakukan benar atau salah.

Sebagai mahasiswa memang harus menghormati serta patuh terhadap dosen.
Karena dosen merupakan seorang yang berjasa bagi cikal bakal ilmu yang
dimilikinya. Namun jika sikap penghormatan dan kepatuhan itu berlebihan. Maka
hal ini menjadi tidak tepat, sebab akan melahirkan prilaku mahasiswa yang
menghamba kepada dosennya. Jika sudah seperti ini maka mahasiswa tidak akan
mampu menyadari apa yang diterimanya adalah bentuk pendidikan atau penindasan.
Karena sejatinya dalam proses belajar dan mengajar semuanya memiliki hak serta
kewajiban sesuai dengan tugas masing-masing dan sudah diatur dalam
undang-undang.

Pada akhirnya penulis tidak menyalahkan salah satu pihak baik mahasiswa
masa kini atau dosen-dosennya. Penulis hanya mengajak kepada para pembaca untuk
merenungi kembali bahwa peran mahasiswa sangat besar di masa orde lama, orde
baru sampai reformasi bagi bangsa Indonesia. Terlebih lagi, kecanggihan
teknolgi yang memberikan kemudahan setiap informasi dapat di akses oleh siapa
pun, kapan pun dan dimana pun menjadikan mahasiswa dan dosen memiliki kedudukan
yang sama (egaliter) dalam semangat untuk terus belajar.

Bagi setiap mahasiwa dan dosen seharusnya mampu bersinergi dalam
menciptakan pembangunan yang berkesinambungan, perubahan di masa depan yang
lebih baik dan pemberdayaan sumber daya manusia. Seperti mengajak mahasiswa untuk
berpartisipasi secara langsung dalam pemberdayaan warga. Salah satunya yaitu
pemberdayaan warga untuk menghidupkan wisata lokal guna meningkatkan
kesejahteraan masyarakat. Komunitas“Ayokedamraman” menjadi salah
satu contoh yang tepat untuk dijadikan percontohan.

Penulis: Elvan Firmansyah

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.

socio, echo, techno, preneurship
🔴 LIVE
🔊

Cek koneksi...

"Ayo Kuliah di UIN Jurai Siwo Lampung"

Informasi Penerimaan Mahasiswa Baru.