metrouniv.ac.id – 26/03/2026 – 6 Syawal 1447 H
Prof. Dr. Dedi Irwansyah, M.Hum. (Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kelembagaan/ Guru Besar UIN Jurai Siwo Lampung)
Science without religion is lame, religion without science is blind.
(Albert Einstein)
Terlintas sebuah mahfudzat yang akrab, hampir seperti nasihat yang terdengar sejak lama: undzur ma qoola, wala tandzur man qoola. Lihatlah apa yang dikatakan, jangan lihat siapa yang mengatakan. Di sana, ada ajakan untuk adil kepada isi, bukan kepada nama. Ada undangan batin untuk tidak lekas tunduk kepada pamor dan wibawa, tidak mudah silau oleh jabatan dan gelar, serta tidak cepat terkecoh oleh suara yang lantang.
Namun dinamika hidup tidak selalu sesederhana petuah.
Di zaman yang berlimpah informasi, manusia tidak hanya berhadapan dengan kebenaran, tapi juga dengan kebisingan. Semua individu bisa bersuara. Semua orang bisa terlihat ahli. Dan di layar kecil yang menyala itu, semua orang bisa hadir sebagai expert. Dalam kondisi semacam itu, pertanyaan kecil terkadang muncul. Benarkah kini cukup memeriksa isi ucapan saja? Tidakkah, dalam beberapa hal, perlu juga melihat siapa yang berbicara?
Barangkali, di titik itu perlu pelan-pelan mendengar sang Mahaguru, Kuntowijoyo (2006), Allohumma yarham. Yaitu, tentang kebenaran dan kemajuan.
Alkisah, kebenaran tidak sama dengan kemajuan. Keduanya berangkat dari titik tolak yang berbeda. Karena itu, keduanya selayaknya diperlakukan secara berbeda pula. Kebenaran bertaut dengan wahyu, dengan prinsip-prinsip yang tak lekang oleh musim dan cuaca. Kebenaran tidak menjadi lebih benar hanya karena zaman yang berubah. Ia tidak menjadi lebih terang hanya karena teknologi bertambah canggih. Sementara itu, kemajuan bergerak di area lain seperti ilmu pengetahuan, sains, teknologi, riset, metode, dan segala ikhtiar manusia untuk terus memperbaiki cara hidupnya. Ia bisa berubah seiring perkembangan zaman dan teknologi.
Jika hendak disederhanakan, agama berada di wilayah kebenaran, sedang sains di wilayah kemajuan.
Dalam wilayah kebenaran, petuah lama itu tetap tegak. Undzur ma qoola. Lihatlah perkataannya. Agama, misalnya, mengajarkan kejujuran. Kejujuran itu benar bukan karena siapa yang mengucapkannya, melainkan karena ia memang benar. Di ruang kuliah, ketika dosen berbicara tentang kejujuran, ia patut didengar karena isi pesannya mengandung kebenaran. Pun begitu, ketika mahasiswa menyajikan makalah tentang kejujuran, ia layak didengar. Kebenaran tidak menjadi benar karena usia, pangkat, posisi, atau relasi kuasa.
Tetapi, keadaan tampak berubah manakala narasi ditarik ke wilayah kemajuan.
Di sana, pertanyaan tidak lagi hanya apa yang benar. Pertanyaan berkembang menjadi bagaimana caranya menyampaikan kebenaran. Dalam pendidikan Islam, misalnya, disepakati tujuan pendidikan untuk menghasilkan insan yang jujur. Namun bagaimana kejujuran itu diajarkan? Apakah cukup dengan ceramah? Haruskan ada simulasi? Perlukah diskusi? Patutkan mempertimbangkan role play, esai reflektif, video pendek, atau platform digital? Untuk menjawab ragam pertanyaan tersebut, diperlukan pendapat ahli.
Di titik itu, petuah undzur man qoola terdengar relevan. Lihatlah siapa yang berbicara. Periksalah apakah ia ahli di bidangnya. Sebab kemajuan mensyaratkan kecakapan. Sebab perkembangan metode pembelajaran lahir dari pengalaman, ketekunan berpikir, observasi, dan penelitian.
Dalam diskursus pendidikan Islam, perbedaan antara kebenaran dan kemajuan adalah suluh. Kebenaran menjadi arah (ghayah) dan kemajuan menjadi sarana (millah). Bahwa pendidikan harus memanusiakan manusia, itu adalah kebenaran. Tetapi kurikulum, materi ajar, strategi pembelajaran, asesmen, media, dan teknologi pendidikan, itu semua adalah sarana. Dan sarana berada dalam wilayah kemajuan, sehingga ia bisa berubah, diperbaiki, dan diperbaharui.
Kebenaran seperti arah kiblat yang tidak berubah. Dan sarana menuju ke Baitullah berkembang dari masa ke masa. Dulu orang berlayar berbulan-bulan dengan kapal. Kini orang terbang dengan pesawat dalam hitungan jam. Tujuannya tetap, tapi sarana untuk mencapainya berkembang. Untuk memahami bagaimana kapal bekerja, atau bagaimana pesawat bisa terbang, diperlukan pencerahan dari ahli. Di titik ini, sains diperlukan. Di titik yang sama, undzur man qoola menjadi kontekstual.
Jika demikian, ada masa diperlukan undzur ma qoola wa man qoola. Masa di mana agama dan sains tidak dipisahkan. Masa di mana arah dan jalan menjadi satu kesatuan. Masa di mana menjadi benar dan pintar menjadi sebuah tujuan yang holistik.
Terkait kebenaran, lihatlah apa yang dikatakan.
Terkait keahlian, lihatlah juga siapa yang mengatakannya.
Kini, kita dapat membaca Einstein dengan tenang. Sains tanpa agama, lumpuh. Agama tanpa sains, buta. Pintar tapi tidak benar, angkuh. Kebenaran tanpa sarana, tak berdaya. Wallahu a’lam.